Saturday, April 19, 2014

Your FanBox earnings: $137.23 all-time ($56.16 on Mar 30)

On March 30 you earned $56.16 (Your FanBox homepage)
All-time earnings: $137.23









Got questions? See what others are saying or chat with an expert

HOW DID I MAKE MONEY?

Of your FanBox earnings yesterday, you earned:

100% from Boosting (3 min video)
(Boosting is when you fund other's Ads and earn money when those Ads receive clicks). 100% profile completeness earns you double profits!

HOW ELSE CAN I EARN MONEY ON FANBOX?

  • Blogging - post anything. You earn when people read your free blogs (1 min video). New: Complete your profile and earn double from your blogs!
  • Advertising - earn by launching simple ads for your or anyone else's blogs, services or stuff (2 min video). And now, advertisers earn double profits when they complete their profile.
  • Sharing photos - don't miss an opportunity to take and share photos - you earn when people view them .
  • Sharing videos - earn from sharing your favorite YouTube and Vimeo videos on FanBox .
  • Sharing mobile photos - take photos with the new FanBox mobile app .
  • Selling - sell your services, stuff or even your blogs .
  • Promoting marketplace items - share, purchase or bid on marketplace items – when someone in your network notices and makes a purchase, you earn! .

WHEN DO I GET MY MONEY?

MATURATION - with your earnings from any month:
  • 30 days after the month, you can spend it on products and services within FanBox
  • 60 days after the month, you can use it to accelerate your earnings with FanBox ads and boosting
  • 90 days after the month, you can cash it out via PayPal or check, or use it to pay your IPL processing fees

WHAT SHOULD I DO NEXT?

QUICK LINKS:


This email was sent to sanusimdnor.posting@blogger.com and may contain special notices or offers. You can prevent future emails here.
FanBox - 113 West G Street, STE 510, San Diego, CA 92101, USA

Thursday, April 17, 2014

Your FanBox earnings: $81.07 all-time ($34.25 on Mar 28)

On March 28 you earned $34.25 (Your FanBox homepage)
All-time earnings: $81.07









Got questions? See what others are saying or chat with an expert

HOW DID I MAKE MONEY?

Of your FanBox earnings yesterday, you earned:

100% from Boosting (3 min video)
(Boosting is when you fund other's Ads and earn money when those Ads receive clicks). 100% profile completeness earns you double profits!

HOW ELSE CAN I EARN MONEY ON FANBOX?

  • Blogging - post anything. You earn when people read your free blogs (1 min video). New: Complete your profile and earn double from your blogs!
  • Advertising - earn by launching simple ads for your or anyone else's blogs, services or stuff (2 min video). And now, advertisers earn double profits when they complete their profile.
  • Sharing photos - don't miss an opportunity to take and share photos - you earn when people view them .
  • Sharing videos - earn from sharing your favorite YouTube and Vimeo videos on FanBox .
  • Sharing mobile photos - take photos with the new FanBox mobile app .
  • Selling - sell your services, stuff or even your blogs .
  • Promoting marketplace items - share, purchase or bid on marketplace items – when someone in your network notices and makes a purchase, you earn! .

WHEN DO I GET MY MONEY?

MATURATION - with your earnings from any month:
  • 30 days after the month, you can spend it on products and services within FanBox
  • 60 days after the month, you can use it to accelerate your earnings with FanBox ads and boosting
  • 90 days after the month, you can cash it out via PayPal or check, or use it to pay your IPL processing fees

WHAT SHOULD I DO NEXT?

QUICK LINKS:


This email was sent to sanusimdnor.posting@blogger.com and may contain special notices or offers. You can prevent future emails here.
FanBox - 113 West G Street, STE 510, San Diego, CA 92101, USA

Tuesday, April 15, 2014

Your FanBox earnings: $46.82 all-time ($46.82 on Mar 26)

On March 26 you earned $46.82 (Your FanBox homepage)
All-time earnings: $46.82









Got questions? See what others are saying or chat with an expert

HOW DID I MAKE MONEY?

Of your FanBox earnings yesterday, you earned:

100% from Boosting (3 min video)
(Boosting is when you fund other's Ads and earn money when those Ads receive clicks). 100% profile completeness earns you double profits!

HOW ELSE CAN I EARN MONEY ON FANBOX?

  • Blogging - post anything. You earn when people read your free blogs (1 min video). New: Complete your profile and earn double from your blogs!
  • Advertising - earn by launching simple ads for your or anyone else's blogs, services or stuff (2 min video). And now, advertisers earn double profits when they complete their profile.
  • Sharing photos - don't miss an opportunity to take and share photos - you earn when people view them .
  • Sharing videos - earn from sharing your favorite YouTube and Vimeo videos on FanBox .
  • Sharing mobile photos - take photos with the new FanBox mobile app .
  • Selling - sell your services, stuff or even your blogs .
  • Promoting marketplace items - share, purchase or bid on marketplace items – when someone in your network notices and makes a purchase, you earn! .

WHEN DO I GET MY MONEY?

MATURATION - with your earnings from any month:
  • 30 days after the month, you can spend it on products and services within FanBox
  • 60 days after the month, you can use it to accelerate your earnings with FanBox ads and boosting
  • 90 days after the month, you can cash it out via PayPal or check, or use it to pay your IPL processing fees

WHAT SHOULD I DO NEXT?

QUICK LINKS:


This email was sent to sanusimdnor.posting@blogger.com and may contain special notices or offers. You can prevent future emails here.
FanBox - 113 West G Street, STE 510, San Diego, CA 92101, USA

Saturday, May 18, 2013

Berkasih Sayang Kerana Allah...

Catatan sebelum ini mengundang banyak persepsi, barangkali juga kali ini. Catatan ini ringkas, namun penuh makna bagi pemilik hati yang masih punya nilai keinsanan, apatah lagi nurani yang memahami tasawwur 'amal Islami, menghayati konsep, sistem, rukun dan adab berjemaah dalam sebuah Harakah Islamiyyah.

Pagi tadi, Dr Syamsuri, Setiausaha Politik Presiden PAS menghubungi aku memaklumkan Presiden akan datang menziarahi Ustaz Azizan petang nanti, jam 3.30.  Hati dan perasaan segera lega dan gembira. Presiden PAS yang dikasihi itu, dalam waktunya yang sangat terbatas, akan meluangkan masa sekali lagi, membuat perjalanan jauh, menziarahi sahabat seperjuangan yang sedang mengalami saat-saat sukar dalam hidupnya.

Aku menyambut TGHH di kereta dan membawanya ke wad. Dia segak berjubah hitam berbutang hingga ke bawah, berserban seperti selalu. Wajahnya berseri walaupun nampak penat dengan kesibukannya. Pak Cop dan beberapa kepimpinan PAS Kedah menanti di pintu wad ICU. Dia memberi salam kepada beberapa pengunjung di koridor, terus melangkah laju terus ke bilik Ustaz Azizan.

Assalamualaikum! Suaranya bergetar. Ustaz Azizan dimaklumkan oleh anaknya Solehah, "Ayah! Ustaz Hadi mai..." Wajah Ustaz Azizan nampak berseri, bola matanya meliar mencari suara sahabat dan pimpinannya itu. Ustaz tidak mampu berkata-kata dan bersuara, tiub oksigen dan saluran paip masih menyekat suara dan mulutnya, dia cuba juga mengerakkan bibirnya untuk menjawab salam sahabatnya itu. Kedua belah tanggan terangkat ke paras dada, seolah menyatakan syukur di atas kedatangan itu.

"Bersabarlah, bersabarlah .... Banyakkan zikir dan doa. Hadis menyatakan orang yang bersabar menghadapi sakit akan diberi pahala yang banyak..." Kata TGHH sambil menggenggam tangan Ustaz Azizan. Wajah dan bola mata mereka bertentangan. Suara TGHH bergetar menahan sebak. " Ana datang nak bagitahu, keputusan yang besar bagi anta ini diambil untuk menyelamatkan nyawa anta, nyawa lebih penting dari anggota tubuh (kaki), atas kewajipan itu, kami semua sahabat dan keluarga membuat keputusan membenarkan pembedahan itu" kata TGHH. Ustaz Azizan mengangguk dan mengangkat tangannya sekali lagi seperti mahu kami juga berdoa untuknya. Mulutnya bergerak, namun tiada suara yang keluar.

TGHH memalingkan wajahnya ke belakang, matanya merah, air mata meleleh disebalik kaca matanya. Kami yang berada di situ tiada daya menahan pilu teramat sangat, dada berombak, nafas tersekat dan air mata menitis laju. Keakraban dan kasih sayang antara mereka terserlah memancar dalam pertemuan itu, tiada ayat untuk menzahirkannya. Aku berpaling ke sisi, Pak Cop, Dr Syamsuri, Helmi Khalid,  Doktor dan jururawat turut menangis menekupkan mulut dengan tangan.

TGHH memegang dahi Ustaz Azizan yang saat itu memandangnya. Sambil mengusap kepala sahabatnya, TGHH mengeluarkan kalimat ini..."Bersabarlah... kerja keras anta selama lima tahun pasti Allah akan terima ..... Khalifah Umar Abdul Aziz menjadi khalifah selama dua tahun setengah sahaja, dia diracun dan mati. Anta sempat juga 5 tahun, lebih lama daripada Umar Abdul Aziz, bersyukurlah dan teruskan bersabar!" Kata-kata TGHH ini diucap dalam tangisan, tersekat-sekat dan perlahan. Kami di belakang bagai tertimpa 'segunung rasa hiba'...menjuraikan air jernih tak terkawal lagi.

"Ana akan ke Turkey esok, InsyaAllah ana akan sampaikan salam anta kepada sahabat-sahabat di sana." Kata TGHH perlahan. Ustaz Azizan mengangguk, matanya memandang wajah TGHH, ada aitrmata bertakung di kelopaknya. Aku segera terbayang pertemuan Ustaz dengan sahabatnya Sheikh Yusoff Karocha, penterjemah kitab dan guru kepada Tayeb Erdogan di Turkey. Mereka bertemu penuh keakraban pada Januari lalu.

Ustaz Azizan mengangkat kedua tangannya dalam kepayahan, TGHH membaca doa ringkas dalam bahasa arab, kami mengaminkannya. Pak Cop dan aku mengambil tempat di sisi katilnya, sementara TGHH mendapat penjelasan ringkas Doktor tentang kondisi terkini Ustaz Azizan. " Ustaz berehatlah, kami semua akan terus berdoa untuk Ustaz." Kata Pak Cop dalam esakan tangisnya.

"Ana minta diri dulu, anta teruslah berehat dan banyakkan sabar". Ustaz Azizan cuba menghulurkan tangganya yang masih bertambat beberapa paip dan wayar bersambung ke mesin. TGHH menyambut dan memegangnya. Dia menjengketkan kakinya, membongkok dan mencium dahi sahabatnya yang terbaring itu, agak lama. "Moga anta lekas sembuh!" Katanya dalam esakkan.

TGHH menghala keluar. "Terima kasih semua!." Katanya sambil mengangkat tangan kepada Doktor dan jururawat yang sedang teresak kesayuan dalam bilik itu. Dia berhenti seketika, menanggalkan cermin mata dan mengesat air matanya di depan pintu. Aku lihat ramai juga yang menyaksikan pertemuan itu dari depan cermin pintu, turut menangis.

Demikianlah kasih sayang diantara dua tokoh pimpinan PAS yang terbina kerana  Allah, subur dan terus segar untuk mengharungi perjuangan suci ini. Ikatan tulus dari hati yang tersimpul kukuh sejak puluhan tahun lalu itu tidak terlerai, tidak mampu dirungkai oleh apapun, dengan sebab apapun, kerana simpulan itu benar dan ikhlas atas jalan Allah, bukan palsu bukan lakonan. Mereka berdua telah sebalut dalam perjuangan ini.... Air mata masih berjurai saat aku menitikkan nokhtah kepada catatan ini.







Tuesday, May 14, 2013

Ustaz Azizan: Keputusan Di Saat Getir Dipimpin Ketegasan TGHH

Secara kasarnya, pada 9  Mei 2013, inilah yang aku lalui....

Khamis - Jam 4.00 petang, Tuan Guru Hj Abdul Hadi Awang, Presiden PAS dan isteri, diiringi setiausaha politiknya  Dr Syamsuri Mokhtar tiba untuk menziarahi Ustaz Azizan. Aku menyambutnya dari kereta, bersama Pengarah Hospital dan Pasukan Doktor Pakar yang merawat Ustaz Azizan. Dia di bawa ke bilik CCU.

Dalam bilik itu ada ramai pelawat lain, termasuk Dato' Seri Mahdzir Khalid, mantan MB Kedah, kini MP Padang Terap. TGHH meluru terus ke katil dan memerhati. Aku lihat matanya sayu memandang wajah dan tubuh kaku terkujur, seorang sahabat yang telah lama bersama-samanya mengharungi perjuangan ini. TGHH sangat mengenali Ustaz Azizan, dia tahu kehebatan insan yang sedang bertarung dengan maut itu. Jemaah Islam pimpinannya kukuh dan teguh dengan hadirnya insan yang sedang terbaring koma itu.

Secebis dari kehebatan insan bernama Azizan

Ustaz Azizan pernah bercerita - Katanya- Aku malu nak bercerita kat orang, aku kenai ramai dan biasa bergaul dengan ramai Ulama'  dan tokoh-tokoh yang memimpin kebangkitan umat Islam di seluruh dunia hari ini, antaranya Rashid Al-Ganoushi, Dr Yusof Qardhawi, Sheikh Qadhi Hussain dan ramai lagi. Ada sesetengah orang baru tengok gambaq orang-orang hebat macam tu, depa dah kata kenai sangat-sangat - ceritanya begini - 

Lama dulu,  dalam satu persidangan Gerakan Islam antarabangsa, (di London atau Iran, aku sudah lupa) dia mewakili PAS bersama Dato' Fadzil Noor danTGHH. Persidangan itu disertai semua tokoh Ulamak Gerakan Islam Sedunia, termasuk Dr Yusof Al-Qardhawi, Dr. Kurshid Ahmad, Dr. Rashid Al-Ghanoushi, tokoh-tokoh Ikhwan dan ramai lagi.

Dalam satu bab yang menjadi perdebatan mereka para ulamak, Ustaz Azizan telah berhujjah panjang, bertembung ilmunya dengan Rashid Al-Ghanoushi (dalam bahasa arab). Akhirnya persidangan itu menerimapakai  hujjah yang dikemukakan oleh Ustaz Azizan. Esoknya, Ustaz Azizan lewat masuk ke persidangan, Dr. Rashid Al-Ghanoushi tercari-cari Ustaz Azizan dan meminta TGHH segera membawa Ustaz Azizan masuk ke persidangan. Katanya memperi perumpamaan - "Aku ni macam sarjan polis yang dok ukur jalan kes eksiden tu, walaupun pangkat tak tinggi, tapi main dengan lamanya pengalaman dia kerja, kadang-kadang ASP pun mai tanya dia lagi. Pandai tak la pandai, tapi hidup dengan mengajar dan dikelilingi buku dan ilmu, aku buleh la berhujjah sikit-sikit".

Ustaz Azizan tidak suka bercerita tentang kebolehannya, dia hanya mempraktikkan ilmu dan kemahirannya. Dia low profile, hanya yang benar-benar kenal dan selalu berinteraksi akan mengenalinya. Pada satu ketika di awal tahun 2008, dia marah bila saya membawa cadangan seorang rakan (Hj Nan) supaya dia memakai jubah dan melayani Sami Budha yang akan mengunjunginya, seperti yang dibuat oleh TGNA. "Hang jangan suruh aku berlakon. Aku dengan cara aku, nak kena berlakon pakai jubah pasai apa? Hang tanya depa tu, dapat pahala ka kalau kita berlakon macam tu...Tok Guru lain, dia memang macam tu dah, dia bukan berlakon!" Aku diam dan mula belajar sesuatu. 

Ketika ada cadangan supaya menghebahkan derma dan  potongan elaunnya kepada Tabung Tengku Mahmud yang diilhamkan olehnya, Ustaz Azizan berpesan. "Hang jangan dok hebohkan benda baik yang aku buat macam sumbangan bulanan aku kepada Tabung Tengku Mahmud atau kat parti.  Aku bukan Tok Guru yang sangat tinggi ikhlas dan tawadduknya. Dia tak pa, aku tak mampu. Nanti timbul riak dan ta'ajub, pahala aku hilang, duit aku pun habis, dosa pulak yang mai." Pengalaman istimewa bersama  insan berusia 69 tahun bernama Ustaz Azizan Abdul Razak akan aku kisahkan kemudian. 


Keputusan Besar Dengan Panduan Seorang Pimpinan

Aku memperkenalkan Dato' Doktor Hamzah (pakar bedah) kepada TGHH supaya dia mendapat gambaran penyakit Ustaz Azizan. "Tuan Guru, Ustaz Azizan sedang tenat.....TGHH menganggukkan kepalanya beberapa kali sepanjang penerangan itu. Turut mendengar penjelasan itu ialah MP Padang Terap yang berdiri di sebelah TGHH. Wajahnya turut cemas dan simpati. TGHH masuk sekali lagi ke sebalik tirai yang menempatkan Ustaz Azizan, membuka selimut di kaki sahabatnya itu....

Dia bercakap serius dan tegas dengan isteri kedua Ustaz Azizan, Ustazah Samsiah yang sentiasa menunggu dan membaca Yaasin di situ sejak pagi. TGHH bersungguh sungguh menjelaskan dan cuba meyakinkan sesuatu kepada warisnya itu. (Orang tua Ustazah Samsiah adalah dua pupu kepada TGHH). "Sediakan saya bilik mesyuarat, panggil semua ahli keluarga yang ada, dan jemput doktor-doktor pakar datang, saya mahu berbincang dan mendengar pandangan". Kata TGHH. Aku mengekorinya ke sebuah bilik di sebelah kiri ruang yang sesak itu.

Memang sejak doktor memaklumkan keadaan Ustaz Azizan dan keadaan kakinya, kuman yang merebak ke tubuhnya, risiko dan kesan yang ada,  pendirian keluarga dan kawan-kawan terbahagi dua. Satu pihak menyokong nasihat doktor untuk memotong kedua belah kakinya, sebelah pihak lagi memegang pesanan Ustaz Azizan supaya tidak dipotong. Kalau tak di potong, 100% fatality (kematian), kalau di potong, masih ada peluang untuk hidup. 


TGHH bertanya punca-punca Ustaz Azizan sakit hingga ke tahap ini. Saya bercerita panjang sebelum ahli keluarga dan doktor pakar dapat berkumpul. Saya juga ceritakan usaha membawa membawa Ustaz Azizan ke klinik di Bukit Minyak yang tertangguh. "Jangan buang masa yang ada, jangan sampai kita terlambat membuat keputusan, mesyuarat inipun sudah memakan setengah jam". Kata TGHH. 

Hj Ismail Wan Teh yang turut berada dalam bilik itu bertanya. "Anta secara pribadi, pada tahap dan keadaan ini, apakah pendirian anta, potong atau tidak?" Aku merenung wajah TGHH, dia menanti jawapan aku. Aku masih berharap dia akan sedar dan aku akan ikhtiarkan rawatan alternatif untuk tidak dipotong. Bila Doktor menjelaskan bahawa mesin bantuan hayat itu tidak mungkin dapat ditanggalkan, bermaksud, jalan alternatif yang ada sudah punah ranah. "Ayah Chik, dalam keadaan di mana jalan alternatif yang saya usahakan sudah tidak dapat dibuat kerana Ustaz tidak boleh dibawa keluar dari sini, saya serahkan pendirian saya kepada keputusan yang  Ayah Chik akan ambil. Muktamad!


Ustazah Samsiah masih bertegas tidak bersetuju kaki suaminya di potong. "Ini amanah suami saya." Katanya. "Saya redha kalau sudah sampai masa nyawanya diambil, dia pergi dalam keadaan itu. Itu pesannya kepada saya dan anak-anak malam Rabu sebelum dia koma. "Ayoh Chik, saya yakin ada unsur lain dalam sakit Ustaz, saya mahu mencuba untuk merawatnya dengan kaedah perubatan Islam pula." Kata Ustazah Samsiah sambil cuba mendail satu nombor supaya TGHH dapat bercakap dengan pihak  itu. 

"Jangan begitu Samsiah, tak boleh bersikap begitu dalam keadaan ini. Itu perkara tidak nampak. Kita kena tengok apa yang nampak dulu. Zahirnya bagaimana. Soal yang tidak nampak kita kira kemudian.  Ini persoalan hidup dan mati. Kita perlu buat keputusan untuk menyelamatkan nyawa Ustaz Azizan".  TGHH menjelaskan. 

"Dari segi syarak pun, inilah kewajipan orang yang masih waras dan sedar, Ustaz Azizan sudah tidak boleh membuat keputusan untuk dirinya. Sanusi pun menerima amanah itu, dia sudah cuba yang termampu. Ustaz Azizan dalam bahaya, mengikut keterangan pakar-pakar, pemotongan kaki perlu dibuat untuk mengelak kuman itu merebak keseluruh tubuhnya. Paling bahaya jika sudah meresap ke organ-organ penting.  Kita kena dengar cakap mereka kerana kita bukan pakar. Mereka yang pakar dalam bidang ini. Panggil Faekah ke sini"! TGHH kelihatan sangat tegas dan yakin dengan pendiriannya. Ustazah Samsiah minta diri untuk keluar kerana di situ tiada liputan talian. Dia masih cuba memuat panggilan telefon.

Kak Faekah dan anak-anak masuk dan mendengar penjelasan Doktor dan TGHH. Kak Faekah sudah ada keputusan. Aku berlalu keluar. Ini ruang untuk keluarga membuat pendirian sesama mereka. Bila aku masuk semula, Kak Faekah dan Ustazah duduk bersebelahan di hadapan TGHH dan pasukan Doktor. Kedua-duanya sugul dan menundukkan wajah. Keputusan sudah dibuat. Kak Faekah akan menandatangani surat persetujuan waris untuk mengizinkan pembedahan. Jam menunjukkan pukul 4.45 petang, ketegasan TGHH telah memandu keluarga besar itu membuat satu pendirian yang sangat besar untuk mereka semua, untuk menyelamatkan nyawa insan yang mereka sayangi, insan yang sangat berjasa kepada ummah dan perjuangan Islam.

YAB Menteri Besar Kelantan masuk sebaik saja keputusan dicapai. Pasukan Doktor pakar yang menunggu keputusan keluarga sejak semalam kini mempunyai tanggungjawab besar. "Anything can happen during the operation procedure, even before its start or after that. We do whatever we can, the rest, we pray to Allah". Begitulah lebih kurang ayat akhir Dato' Dr Hamzah. Mereka kemudian meminta izin bergambar bersama kedua tokoh Gerakan Islam yang memimpin PAS itu.

Keluar dari bilik itu seperti terkeluar dari dilema dan kekusutan. Demikianlah sifat dan sikap seorang pemimpin, seorang sahabat dan seorang Tok Guru. Dia memandu kita diwaktu samar, dia tunjukkan jalan menuju cahaya. Dia mampu memberi kata putus dengan hujjah dan pedoman ilmu. Dia merujuk dan menghormati kebolehan orang lain dalam bidang mereka, dia melihat apa yang lebih utama (aulawiyat) di waktu pilihan berpecah dua. Dia tegas dan bersungguh -sungguh. Pertimbangannya menghasilkan keputusan yang jelas dan kukuh. Dia hadir membawa sinar penyelesaian dalam kekusutan. Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang, Presiden PAS.

Jam 7.00 petang, Ustaz Azizan yang sedang koma dipindahkan ke dewan pembedahan, sekitar jam 11.00 malam, separuh tubuhnya di bawa keluar ke ICU, separuh lagi meluncur di jalan menuju pusara persemadian di Muassasah Darul Ulum. Aku berserah kepada Allah atas apa yang telah ditentukan untuk seorang pimpinan Jemaah Islam yang sangat aku kasihi. Dia bukan sahaja bapa kepada anak-anaknya, dia seperti ayah buat kita semua. Dia kini masih terbaring di wad itu... Menjalani takdir dari Allah yang Maha Esa.

Sunday, May 12, 2013

Aku Dan Ustaz Azizan: Catatan Kehilangan


Aku menemani Ustaz Azizan di KMC setelah beberapa hari tak bertemu kerana urusan kempen pilihanraya. Beberapa kali dia berpesan kepada rakan-rakan untuk menghubungi aku yang agak sibuk melaksanakan tanggungjawab sebagai Pengarah MTD DUN Jeneri (aku adalah Timbalan Pengarah 1 sebelumnya, terpaksa memangku pengarah yang dilantik sebagai wakil calon). Kami hanya berhubung melalui telefon. Dia foward beberapa sms dan nombor telefon yang memaki hamunnya sebelum dan selepas calon-calon dimuktamadkan. Aku ber istighfar dan meminta dia terus bersabar.  Dia sudah buat yang terbaik untuk negeri, rakyat Kedah dan parti. Tak ada apa perlu dikesalkan. 

Beberapa kali dia merungut... "Depa tak mau dengar cakap kita dah. Susunan dan cadangan kita diredah tanpa merujuk kepada kita lagi. Semua orang boleh membuat keputusan untuk PAS Kedah. Kita di Perhubungan Negeri sudah tak ada kuasa apa- apa. Pesuruhjaya ada ramai di Kedah ni". Saya hanya mendengar dan menyelami keresahannya. Seorang Pesuruhjaya tanpa kuasa di saat keputusan-keputusan besar  perlu dilakukan.

Ramai orang lama PAS Kedah datang dengan rombongan mereka dari kawasan -kawasan  untuk memohon dikekalkan atau diganti calon-calon tertentu dengan alasan yang tersendiri, Ustaz Azizan sudah letih melayani. Katanya" Hampa kata hampa, yang aku cadang pun depa buang, depa langgaq ikut suka depa, nak suruh aku pertahan hak hampa cadang lagu mana. Hampa pi lah ke pejabat agong, aku sudah tak buleh buat apa-apa."


Setelah keputusan PRU diumumkan, barulah saya berkesempatan bertemu dengannya, itupun dia sudah di KMC, mengadu sakit kaki dan demam. Kali pertama mengunjunginya pada Isnin, dia sedang menjalani prosedur rawatan di ICU, saya pulang jam 6 petang, setelah menunggu 2 jam. Salur darah di kakinya tersumbat.

Esoknya, saya dimaklumkan oleh anaknya Mohamad Rafie, ayahnya mungkin dirujuk ke IJN dengan kondisi kesihatannya yang tidak didedahkan. Saya masuk menemui Azizan di ICU KMC jam 2 petang, dia mengalirkan air mata setelah saya mencium tangannya yang sedang terbaring. Saya tak mampu menahan lelehan airmata yang makin laju. "Sik macam mana dah? Aku tau hang pulun nak bagi menang jugak, tapi ni semua takdir Allah. Kita terlepas satu beban yang sangat besar. Hang bayangkan kalau kita menang, dan aku ada dalam wad, tentu kacau bilau lebih besaq daripada awal 2012 hari tu". "Tak pa lah Ustaz, tok sah dok pikiaq pasai politik lagi, kita berubat bagi lega dulu". Aku jawab perlahan memujuknya.

"Kaki aku kebas, tak rasa apa-apa. Hang angkat aku sat, aku nak pi bilik ayaq". Sejak beberapa bulan terakhir, terutama ketika dia mengadu tentang  calon-calon PAS Kedah, tekanan dalaman parti, sikap rakan-rakan parti, caci maki melalui SMS yang diterimanya, saya sering sebak dan buntu. Apa lagi yang tak kena, apa salah aku apa dosa kita... Dia merungut. Tak ada siapa mai habaq dosa apa yang aku buat, main hentam jauh- jauh saja. Mai lah cakap depan aku, apa salah aku. La ni semua pi panjat tangga Pejabat Agong, kita di negeri dah tak laku. Biaq depa jawablah. 

Beberapa kali dia menyatakan pada waktu ini PAS memiliki terlalu ramai pencatur politik ( munawarah al-siasiyah) dan kita ketandusan Al-Murabituun  dalam jemaah. Saya hanya mendengar dan membayangkan masa depan parti yang kian mencabar. "Hang talipon bagitau Cikgu Pa, tanya dia aku nak lepas jawatan Pesuruhjaya, minta pandangan dia, nak letak la ni ka atau lepas muktamar"? 

MB Kedah yang baru, Dato' Mukhriz sampai jam 3.00 petang. Saya melihat dan mendengar perbualan mereka, seperti seorang bapa bercakap dengan anaknya, tapi penuh hormat dan sopan. Ustaz Azizan  meminta dua perkara untuk diberi perhatian atas kerja kerasnya selama 5 tahun, diteruskan. " Saya nak minta tolong pada Dato' dua perkara, pertama tentang KUIN dan kedua tolong teruskan pembinaan  Ma'ahad Tahfiz Sains Pulau Tuba. Semua bajet untuk itu sudah diluluskan".  Dia masih sempat bergurau tentang beberapa perkara. Sewaktu melangkah keluar dari bilik, MB Kedah itu bersalam dengan aku dan berpesan. "Jaga Ustaz elok-elok".

Saya mengiringi Azizan ke General Hospital Pulau Pinang jam 3.30 petang hari selasa 7 Mei 2013. Bersama saya anaknya Mohamad Rafie dan rakan lamanya Saudara Mazlan. Sampai sana jam 5 petang, terus ke unit kecemasan. Azizan masih sedar dan berbual. Dia berpesan beberapa kali supaya terus bekerja memajukan PAS. Dia masih bertanya beberapa orang calon yang menang dan yang tewas, termasuk Ustaz Afnan Hamimi Taib Azamuddin di Kepala Batas. 

Dia haus dan dahaga. Saya meminta cawan dan straw, dia minum beberapa kali. Dia menjadi cemas dan memanggil saya apabila doktor memaklumkan kakinya tidak dapat diselamatkan lagi. Dia berpesan beberapa kali, "Hang jangan bagi depa potong kaki aku". Saya berjanji akan mencari ikhtiar lain. "Jom kita balik, naik kereta pun tak pa lah". Katanya beberapa kali. 

Jam 7.30 malam, Ustaz Ali dari Alor Setar telah menunggu di Bukit Minyak, Bukit Mertajam. Ada seorang pakar yang merawat kesan diabetis yang lebih parah, tak perlu di potong. Saya bercadang membawanya ke sana. Ustaz Ali pernah dirawat di situ. Saya menghubungi ambulan daripada St John Ambulan, untuk membawa dia keluar, atas alasan nak pulang ke KMC, tetapi nak singgah di Bukit Minyak. Ambulan yang lengkap dengan alat bantuan pernafasan hanya boleh datang jam 8.30, saya menunggu tidak sabar lagi. Saya keluarkan wang di mesin RM3 ribu untuk kos ambulan dan rawatannya di Bukit Minyak.

Doktor tidak membenarkan saya mengambil risiko besar untuk membawanya keluar kerana takanan jantungnya tidak stabil. Beberapa kali saya berbincang dengan Tok Puan Faekah untuk mengambil risiko itu, tetapi kondisi terakhir Ustaz Azizan tidak membolehkan kami membawanya keluar. Kena tunggu jantungnya stabil baru kita bawa dia keluar. Saya dan  Tok Puan Faekah (saya panggil Kak) akur. 

Saya mengambil beberapa keping gambar bahagian kaki Ustaz Azizan dan memecut bersama Mazlan ke Bukit Minyak. Doktor Kumar memberi keyakinan bahawa keadaan seperti itu masih boleh dirawat tanpa pemotongan. Hanya bahagian hujung jari ibu kakinya perlu dibuang. "As long  he still conciuos and you can bring him here, his leg can be safe, no need to cut it off".  Dia menunjukkan beberapa gambar dalam simpanannya yang lebih parah, kaki yang hitam, isi yang tumbuh kembali selepas rawatan di situ. Saya dan Mazlan lega dan gembira. Saya sudah temui penyelesaian alternaif, amanah Ustaz akan tertunai. Saya membuat temujanji untuk membawa Ustaz Azizan ke klinik itu seawal mungkin, sebaik sahaja dia membuka kliniknya jam 2.00 petang.

Saya kembali kepada Ustaz Azizan, memberi keyakinan kepadanya bahawa kakinya boleh diselamatkan. Dia tersenyum. "Jom kita pi la ni". Dia cuba bangun. Saya dan Kak Faekah menerangkan nasihat doktor yang sedang menstabilkan jantungnya. "Kita pi esok jam 2.00 petang. Ustaz tidoq dulu bagi jantung stabil, jam 12.00 tengahari esok saya akan mai dan bawa Ustaz keluar. Ambulan saya sudah panggil, depa dah ready untuk esok." 

"Kalau macam tu, hang balik lah dulu, aku nak tidoq, kita jumpa esok". Kata Ustaz Azizan. Saya menunggu hingga semua anak menantunya datang. Mereka masih berbual dengan Ustaz Azizan, dan dipesan macam-macam perkara sewaktu saya bergerak pulang untuk mengambil pakaian. Jam 3 pagi saya sampai di rumah. 

Jam 5.30 pagi, Kak Faekah menelefon tiga kali memaklumkan Ustaz tenat dan koma. Saya bertanya beberapa kali, betulkah berita ni, sapa yang bagitau Kak? Ahmad (anak Ustaz Azizan yang menunggu di wad) yang telepon bagitau, Kak dok bersiap nak pi la ni. Jawab Kak Faekah. "Ahmad tau ka tenat ka nazak tu macam mana, dia reti ka Kak?" Doktor yang bagitau dia.... Mendengar itu saya bingkas mencapai seluar,  bergegas ke Pulau Pinang dengan Mazlan dan Shahril Rizal, bekas pengiring Ustaz yang diarahkan kembali melapor diri ke Ibu Pejabat Polis Kontinjen Kedah. Dia tidak diperlukan lagi di Pejabat Menteri Besar kerana sudah ada yang bersiap menggantikannya. Katanya dari Bukit Aman.

Saya masih berdoa Ustaz akan sedar dan mampu dibawa keluar jam 12 tengahari nanti. Di wad CCU, ustaz sedang dibantu dengan alat bantuan pernafasan, lebam hitam di kaki kanannya sudah melarat ke sebelah kiri, melepasi lututnya, terlalu pantas dan luar biasa. Kakinya sejuk.  Dia bernafas menerusi mulutnya saja. Saya terus berdoa, membaca Yaasin dan  membisikkan talqin. Dia seperti mendengar dan mengajuk. Kelopak matanya berkedip-kedip.

Saya memaklumkan kepada pimpinan dan kawan-kawan dalam PAS Kedah kondisi semasa Ustaz Azizan. Jam 10.30 pagi panggilan mula masuk meminta pengesahan, benarkah Ustaz Azizan sudah tiada? Ada sebaran sms dan tulisan di blog ke seluruh negara bahawa ustaz sudah meninggal. Dari jam 10.30 hingga jam 1.00, telefon saya tidak berhenti berdering, saling bertindih panggilan yang masuk. Jawapan saya ringkas dan cepat. "Ustaz masih hidup, tetapi sedang koma, berita kematian itu palsu".

Jam 2.00 saya ke surau, solat Zohor dalam fikiran yang bercelaru. Ustaz tak dapat di bawa ke Bukit Minyak, walaupun semua persiapan telah dibuat. Berita palsu ini pula sengaja dimainkan. Saya membayangkan perasaan anak-anak dan isteri-isterinya. Saya solat dengan En Zahari, Pegawai Daerah Yan. Dia mendahului saya saya satu rakaat. Saya masukkan handphone yang hampir habis bateri itu ke dalam beg sandang, sesudah berwuduk. Saya sandarkan beg itu di tiang di belakang saf saya, dan memulakan solat jamak dan  qasar.

Saya berpaling ke belakang sesudah berdoa. Beg sudah tiada. Saya meraba poket, alhamdulillah, dompet yang tidak berduit masih ada, semua duit ada dalam beg, termasuk bekalan yang saya siapkan untuk ambulan dan rawatan di Bukit Minyak. Saya buntu dan mati kutu. Handphone saya ada dalam beg itu. Saya mengingati apa lagi yang ada. Aduhhh! iPad, pendrive, charger, parfume, pisau belati, buku cek, bil-bil, dan banyak lagi.

Saya memaklumkan kepada Ustaz Hafiz Nordin yang kebetulan ada di situ, dia cuba mendail nombor saya, tiada jawapan. Dia memanggil kawannya di syarikat telekomunikasi untuk menamatkan talian saya, semua urusan itu selesai di tanggnya.

Saya ke hulu ke hilir, mencari dalam tong sampah, belakang surau, dalam longkang dan tempat-tempat tersembunyi. Tiada!

Hingga malam itu, saya tidak dapat update keadaan semasa Astaz Azizan. Ada sedikit masa terluang, saya ke maxis, ambil simcard baru dan sain kontrak baru untuk dapatkan telefon yang lebih murah. 

Saya update di facebook tentang kehilangan itu, ramai yang simpati dan berdoa. Sejak hilang pada hari Rabu, saya tak terfikirkan apa-apa tentang beg itu. Duit dan semua isi beg sudah ditakdirkan menjadi rezeki pencuri. Saya berdoa supaya dia memulangkan apa yang dia tidak perlukan. Saya halalkan apa yang sudah diambil dan dibelanjakan. Kalau dipulangkan handphone dan iPad saya itupun sudah satu rahmat besar buat saya.

Ketika membawa dua anak kecil ustaz ke Chowrasta membeli pakaian dan keperluan diri, saya menerima panggilan daripada seorang wanita. "Adakah encik kehilangan iPad?" Ya! Saya menjawab." Saya terkedu, seperti tak percaya bila mendengar beg saya ada padanya. Saya menunggu di Balai Polis Lebuh Keramat, hingga dia datang bersama ibunya. " Panjang ceritanya Encik, adakah encik mahu report polis kes ini?" Saya kata tak perlulah, asalkan saya dapat balik iPad saya.

Saya belanja mereka minum. Beg itu dicuri oleh seorang pemuda penagih dadah, seorang anak muda 27 tahun yang dipelihara oleh ibu tirinya. Ayahnya berkahwin dua, isteri pertama ayahnya memelihara dua anak angkat dengan penuh kasih sayang, tetapi menjadi penagih dadah. Ibu peliharaanya itu jatuh sakit dan tak mampu lagi mengawal anak belanya itu. Dia anak isteri kedua ayahnya, tetapi sesekali dikunjungi oleh 'abangnya' itu meminta wang atau menumpang tidur.  Pada tengahari hari rabu, 'abangnya' datang meninggalkan sebuah beg berwarna coklat, katanya beg itu milik kawannya.

Dia kurang percaya dan mula memeriksa beg itu, dia menelefon saya dengan maklumat yang diperolehi dari iPad saya. Handphone dan wang tunai sudah lesap, tetapi saya tetap bersyukur. Saya menghubungi ibu pemuda itu yang sedang sakit, nombor telepon saya ambil dari anak tirinya. Saya memaklumkan hal anaknya mencuri beg dan saya sudah mendapatkannya semula. Saya ucapkan terima kasih dan memberi sedikit nasihat. Saya ingin bertemu Mohd Nasrul Bin Daud!

Saya pulang ke rumah selepas 5 hari di Penang. Anak saya demam dan isteri saya masih di klinik, sakit perut. Ustaz Azizan masih terlantar, anak-anaknya, isteri-isterinya saya sudah aturkan penempatan dan pergerakan mereka. Moga semuanya bersabar. Kita jumpa esok!